Bab Marfu’at Ihtisar Nahwu

Aug 10, 2016 | | Say something

BAB. IV Marfu’aat (المرفوعات). Yaitu isim-isim yang dibaca rof’u, diantaranya adalah:
1. Fa’il. 2. Naibul Fa’il(maf’ul yang tidak disebutkan fa’ilnya). 3. Mubtada’. 4. Khobar. 5. Isim كان dan saudara-saudaranya. 6. Khobar إن dan saudara-saudaranya. 7. Tawabi’ (Na’at, ‘Athof, Taukid, Badal).

1. Fa’il/ فاعل

Dalam bahasan Indonesia dikenal dengan subyek atau pelaku. Sedangkan menurut ulama nahwu, fa’il adalah isim yang marfu’ yang sebelumnya telah disebutkan fi’ilnya.

Contoh:
يَكْتُبُ مُحَمَّدٌ الدَّرْسَ.
مُحَمَّدٌ adalah fa’il, dan sebelumnya telah disebutkan fi’ilnya yaitu يَكْتُبُ , sedangkan الدَّرْسَ adalah maf’ul(obyek).

Jadi مُحَمَّدٌ itu marfu’ karena dia adalah fa’il dan tanda rof’u-nya adalah dhommah di akhirnya karena dia isim mufrod.

Jumlah seperti ini disebut jumlah fi’liyah karena di dahului oleh fi’il, yang terdiri dari:
مفعول فاعل فعل

Macam-macam fa’il:

1. Fa’il Dhzohir

Contoh: قَامَ زَيْدٌ.

زَيْدٌ adalah fa’il dhzohir, karena kita dapat dengan jelas melihatnya tanpa butuh interpretasi lain untuk menunjukkannya(yaitu qorinah). Inilah yang dimaksud dhzohir.

2. Fa’il Mudhmar

Contoh: التَّلَامِيْذُ حَفِظُوْا دُرُوْسَهُمْ.

Fa’il dalam jumlah di atas adalah dhomir, taqdirnya adalah هُمْ yang kembali pada التَّلَامِيْذُ.
Lihat perbedaannya dengan yang dhzohir! Yang mudhmar fa’ilnya berbentuk dhomir. Dalam bahasa Indonesia dhomir ini dikenal dengan kata ganti.

Dhomir/kata ganti itu ada tiga jenis:

a. Dhomir Mutakallim/Kata ganti untuk orang pertama.
Contoh:

1. Saya telah hafal pelajaran itu. حَفِظْتُ الدَّرْسَ.

Fa’il dalam contoh itu adalah dhomir, taqdirnya adalah أنا/saya, ini adalah dhomir mutkallim wahid/kata ganti orang pertama tunggal.

2. Kami telah hafal pelajaran itu. حَفِظْنَا الدَّرْسَ.

Fa’il dalam contoh di atas adalah dhomir, taqdirnya adalah نَحْنُ/kami, ini adalah dhomir mutakallim untuk lebih dari satu, atau satu tapi untuk mengagungkan diri sendiri.

b. Dhomir Mukhotob/Kata ganti untuk orang yang kedua.

Contoh:

1. Kamu(lk) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظْتَ
2. Kamu(pr) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظْتِ
3. Kalian berdua(lk/pr) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظْتُمَا
4. Kalian(jamak lk) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظْتُمْ
5. Kalian(jamak pr) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظْتُنَّ

c. Dhomir Ghoib/Kata ganti untuk orang yang ketiga.

Contoh:

1. Dia(lk) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظَ
2. Mereka berdua(lk) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظَا
3. Mereka(lk) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظُوْا
4. Dia(pr) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظَتْ
5. Mereka berdua(pr) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظَتَا
6. Mereka(pr) telah hafal pelajaran itu. الدَّرْسَ حَفِظْنَ

Contoh-contoh I’rob:
1. حَضَرَ مُحَمَّدٌ.
حَضَرَ: فِعْلُ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
مُحَمَّدٌ: فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

2. سَافَرَ الْمُرْتَضَى.
سَافَرَ: فِعْلُ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
الْمُرْتَضَى: فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ضَّمَّةٌ مُقَدَّرَةٌ عَلَى الْأَلِفِ مَنَعَ مِنْ ظُهُوْرِهَا التَّعَذُّرُ.

3. يَضْحَكُ الْقَاضِي.
يَضْحَكُ: فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة في آخره.
الْقَاضِي: فاعل مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على الياء منع من ظهورها الثقل.

2. Naibul Fa’il/ نائبل فاعل
Yaitu isim marfu’ yang tidak disebutkan bersamanya fa’ilnya.
Contoh:
Dahan itu telah dipetik. قُطِعَ الْغُصْنُ.
الْغُصْنُ adalah naibul fa’il karena tidak disebutkan fa’ilnya yaitu tidak disebutkan siapa yang memetik dahan itu.

Dalam hal ini digunakan fi’il bentuk majhul/ kata kerja pasif. Kalau fi’il madhi menggunakan wazan فُعِلَ sebagaimana dalam contoh di atas. Sedangkan fi’il mudhori’ bentuk majhul/pasif menggunakan wazan يُفْعَلُ .
Contoh:
Padi itu sedang dipanen. يُحْصَدُ الْأَرُزُّ.

الْغُصْنُ dan الْأَرُزُّ keduanya naibul fa’il, marfu’, dan tanda rof’u-nya adalah dhommah di akhirnya.

Kalau kita I’rob dengan menggunakan bahasa arab sebagai berikut:
الْغُصْنُ و الْأَرُزُّ نائبا الفاعل مرفوعان وعلامة رفعهما الضمة الظاهرة في آخره.
Disebut naibul fa’il/pengganti fa’il karena dia menggantikan posisi fa’il. Jadi perannya seperti fa’il.

3 & 4. Mubtada’ dan Khobar
Definisi:
Mubtada’ yaitu isim marfu’ yang terbebas dari amil-amil lafdziyah.
Khobar yaitu isim marfu’ yang disandarkan(musnad) padanya.

Contoh:
Kholid adalah guru. خَالِدٌ مُدَرِّسٌ.
خَالِدٌ Adalah mubtada’ marfu’ karena dia tidak ada yang mempengaruhinya(amil) baik fi’il maupun yang lainnya. Tanda rofa’nya adalah dhommah.

مُدَرِّسٌ adalah khobar marfu’, karena guru itu isnadkan/disandarkan pada خَالِدٌ. Tanda rof’u-nya adalah dhommah.

o Jenis-jenis mubtada’:
1. Dhzohir
2. Mudhmar

1. Dhzohir
Telah jelas sebagaimana contoh di atas, yaitu خَالِدٌ adalah mubtada’ dhzohir (tidak ada interpretasi lain).

2. Mudhmar
Ada 12 lafadz sebagaimana berikut ini bersama contohnya dalam jumlah:
1. أَنَا أَنَا طَالِبٌ. Saya adalah pelajar.
2. نَحْنُ نَحْنُ طُلَّابٌ. Kami adalah para pelajar.
3. أَنْتَ أَنْتَ طَالِبٌ. Kamu(lk) adalah pelajar.
4. أَنْتِ أَنْتِ طَالِبَةٌ. Kamu(pr) adalah pelajar putri.
5. أَنْتُمَا أَنْتُمَا طَالِبَانِ/ طَالِبتَانِ. Kamu berdua adalah para pelajar.
6. أَنْتُمْ أَنْتُمْ طُلَّابٌ. Kalian(lk) adalah para pelajar.
7. أَنْتُنَّ أَنْتُنَّ طَالِبَاتٌ. Kalian(pr) adalah para pelajar.
8. هُوَ هُوَ طَالِبٌ. Dia(lk) adalah pelajar.
9. هُمَا هُمَا طَالِبَانِ/ طَالِبتَانِ. Mereka berdua adalah para pelajar.
10. هُمْ هُمْ طُلَّابٌ. Mereka adalah para pelajar.
11. هِيَ هِيَ طَالِبَةٌ Dia(pr) adalah pelajar putri.
12. هُنَّ هُنَّ طَالِبَاتٌ. Mereka(pr) adalah para pelajar putri.
Dari أَنَا sampai هُنَّ adalah dhomir-dhomir munfashil(terpisah) dan bariz(jelas). Dan jika mubtada’ itu dhomir maka harus demikian.

o Jenis-jenis khobar:
1. Mufrod
2. Ghoiru Mufrod, ini pun ada 4 jenis:
– Jar Majrur/ الجار والمجرور
– Dhzorf/ الظرف
– Fi’il dan fa’ilnya(jumlah fi’liyah)/ الجملة الفعلية
– Mubtada’ dan khobarnya(jumlah ismiyah)/ الجملة الاسمية

Yang dimaksud dengan mufrod di sini adalah bukan jumlah dan tidak meyerupai jumlah.
Contoh:
Muhammad adalah orang yang duduk. مُحَمَّدٌ جَالِسٌ.
جَالِسٌ adalah khobar mufrod marfu’ dan tanda rofa’nya adalah dhommah.

Sedangkan yang ghiru mufrod terbagi sebagaimana di atas.
Contoh:
1. Khobar yang jar majrur: الكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ , yang bergaris bawah adalah khobar dalam bentuk jar majrur. Jarnya عَلَى dan majrurnya adalah الْمَكْتَبِ . Dan untuk jar majrur insya Alloh akan dijelaskan lebih panjang dalam bab majruroot.

Kalau contoh di atas kita I’rob dalam bahasa arab sebagai berikut:
الكتاب: مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة.
على المكتب: جار ومجرور في محل رفع خبر.

2. Khobar yang dhzorf:الْمُدَرِّسُ أَمَامَ الْفَصْلِ. , yang bergaris bawah adalah dhzorof makan(menunjukkan tempat), dia adalah khobar. Insya Alloh akan dijelaskan lebih panjang dalam bab majruroot.

Kalau contoh di atas kita I’rob dalam bahasa arab sebagai berikut:
الْمُدَرِّسُ: مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة.
أَمَامَ : ظرف وكان مبني على الفتح في محل رفع خبر.

3. Khobar jumlah fi’liyah:
Kholid membaca majalah itu. خَالِدٌ يَقْرَأُ الْمَجَلَّةَ.
Khobar dalam contoh di atas berbentuk jumlah fi’liyah yaitu يَقْرَأُ الْمَجَلَّةَ terdiri dari fi’il (يَقْرَأُ) dan fa’ilnya dhomir mustatir taqdirnya adalah هو , sedangkan الْمَجَلَّةَ maf’ul bihi(subyek). Dan خَالِدٌ mubtada’.

Kalau contoh di atas kita I’rob dalam bahasa arab sebagai berikut:
خَالِدٌ: مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة.
يَقْرَأُ الْمَجَلَّةَ: جملة فعلية في محل رفع خبر. و يَقْرَأُ: فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة في آخره. و الْمَجَلَّةَ: مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة في آخره.
(akan datang penjelasannya dalam bab manshubaat)

4. Khobar jumlah ismiyah:
Muhammad bapaknya seorang pedagang. مُحَمَّدٌ أَبُوْهُ تَاجِرٌ.
Khobar dalam contoh di atas berbentuk jumlah ismiyah yaitu أَبُوْهُ تَاجِرٌ , terdiri dari mubtada’ (أَبُوْهُ ) dan khobar (تَاجِرٌ ).

Kalau contoh di atas kita I’rob dalam bahasa arab sebagai berikut:
مُحَمَّدٌ: مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة.
أَبُوْهُ تَاجِرٌ: جملة اسمية في محل رفع خبر. و أَبُوْهُ: مبتدأ ثان مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه من الأسماء الخمسة. و تَاجِرٌ: خبر المبتدأ الثاني مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة.

5. Isim كان dan saudara-saudaranya.
كان termasuk yang menghapus fungsi mubtada’. Sedangkan saudara-saudaranya adalah yang beramal seperti fungsi كان .
Contoh:
1. محمد قائم : محمد adalah mubtada’. Dan قائم khobar.
2. كان محمد قائما : محمد adalah isim كان , dan قائما adalah khobar كان .
Perhatikan contoh satu dan dua/ sebelum dan sesudah ada كان. Anda dapat melihat perbedaannya.

Isim كان adalah marfu’.

Berikut tabel كان dan saudara-saudaranya :
النواسخ Fungsi Contoh Arti
كَانَ Untuk mensifati isim dengan khobar pada waktu lampau. كان حامدٌ مُدِيْرًا. Dulu Hamid adalah seorang kepala sekolah.
أَمْسَى Untuk mensifati isim dengan khobar pada waktu sore. أمسى الجَوُّ بَارِدًا. Udara menjadi dingin pada sore hari.
أَصْبَحَ Untuk mensifati isim dengan khobar pada waktu pagi. أصبح الجو مُكْفَهِرًّا. Udara menjadi segar pada pagi hari.
أَضْحَى Untuk mensifati isim dengan khobar pada waktu dhuha. أضحى الطالبُ نَشِيْطًا. Pelajar itu menjadi rajin pada waktu dhuha.
ظَلَّ Untuk mensifati isim dengan khobar pada seluruh waktu siang. ظل وَجْهُهُ مُسْوَدًّا. Wajahnya menjadi hitam pada siang hari.
بَاتَ Untuk mensifati isim dengan khobar pada waktu malam. بات محمدٌ مَسْرُوْرًا. Muhammad menjadi bahagia pada malam hari.
صَارَ Untuk merubah isim dari keadaannya ke keadaan yang ditunjukkan oleh khobar. صار الغُلَامُ وَزِيْرًا. Anak itu telah menjadi menteri.
لَيْسَ Untuk menafi’kan khobar dari isim pada waktu sekarang. ليس خالدٌ جَاهِلًا. Kholid bukanlah orang yang bodoh.
مَا زَالَ Untuk menunjukkan tetapnya khobar pada isim sesuai dengan tuntutan keadaan. ما زال الرجلُ مُنْكِرًا. Laki-laki itu selalu ingkar.
مَا انْفَكَّ
مَا فَتِىءَ
مَا بَرِحَ ما برح عليٌّ صَدِيقًا مُخْلِصًا. Ali selalu menjadi teman yang baik.
مَا دَامَ Untuk menunjukkan tetapnya khobar untuk isim juga. لا أَضْرِبُ عليًا ما دمت حَيًّا. Aku tidak akan memukul Ali selama aku hidup.

6. Khobar إِنَّ dan saudara-saudaranya.
إِنَّ dan saudara-saudaranya menashobkan isim dan merofa’kan khobar.
Contoh:
Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui. إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ.
عَلِيْمٌ khobar إِنَّ marfu’ dan tanda rof’u-nya dhommah.

Berikut tabel إِنَّ dan saudara-saudaranya:
النواسخ Fungsi Contoh Arti
إِنَّ Untuk taukid yaitu penguatan nisbah khobar pada mubtada’ إنّ محمدًا تاجرٌ. Sesungguhnya Muhammad seorang pedagang.
أَنَّ أنّ خالدًا كَرِيْمٌ. Sesungguhnya Kholid dermawan.
لَكِنَّ Untuk istidrok yaitu membalikkan perkataan yang ditetapkan dengan penafian. محمد شُجَاعٌ لكن صديقَه جَبَّانٌ. Muhammad seorang pemberani tapi kawannya pengecut.
كَأَنَّ Untuk tasybih mubtada’ dengan khobar. كأن الخَطِيْبَ أَسَدٌ. Khotib itu seperti singa.
لَيْتَ Angan-angan ليت الشَبَابَ عَائِدٌ. Andaikan masa muda itu kembali.
لَعَلَّ Harapan لعل اللهَ يَرْحَمُنَا. Semoga Alloh menyayangi kita.

7. Tawabi’
Yaitu yang mengikuti. Jadi I’robnya mengikuti kalimat yang sebelumnya.

 Na’at ( نعت )
Sama dengan sifat. I’robnya mengikuti man’utnya baik rofa’, nashob, jar, ma’rifah, dan nakirohnya.
Contoh:
Zaid adalah pelajar yang bersungguh-sungguh. زيد طالبٌ مُجْتَهِدٌ.
مُجْتَهِدٌ adalah na’at, man’utnya adalah طالبٌ , karena man’utnya itu marfu’ maka na’at pun marfu’.

 Isim ma’rifah dan nakiroh.
Isim ma’rifah, yaitu isim yang menunjukkan pada sesuatu yang telah tertentu. Ada lima jenis:
1. Isim Mudhmar, contoh: أنا و أنت .
2. Isim alam, yaitu isim yang menunjukkan pada sesuatu yang sudah tertentu tanpa butuh pada qorinah orang ke-1/mutakallim, mukhotob, atau lainnya. Contoh: محمد، خالد، فطمة، زينب, مكة dan lain-lain.
3. Isim mubham, yaitu isim isyaroh( kata tunjuk contoh: هذا، هذه، هؤلاء) dan isim maushul(kata sambung contoh: الذي، التي، الذين)
4. Isim yang ber-ال , contoh: الكتاب، الرجل، البيت.

Isim nakiroh, yaitu isim yang dalam jenisnya tidak menunjukkan pada seuatu tertentu atau khusus.
Contoh: رجل tidak menunjukkan pada laki-laki tertentu tapi laki-laki siapa saja.
Atau mudahnya bahwa isim nakiroh ini biasanya adalah isim yang tidak ber-ال.

 ‘Athof ( عطف )
I’robnya mengikuti ma’thuf (yang di ikuti/yang di ‘athofi).
Ada dua jenis, yaitu:
‘Athof bayan.
Contoh:
Bapakmu (yaitu) Muhammad telah mendatangiku. جَاءَنِي مُحَمَّدٌ أَبُوْكَ.
أَبُوْكَ adalah ‘athof bayan karena menerangkan Muhammad. أَبُوْكَ marfu’ mengikuti ma’thufnya yaitu مُحَمَّدٌ .
‘Athof Nasaq ( عطف النسق ).
Contoh:
Telah datang Muhammad dan Kholid. جاء محمدٌ و خالدٌ.
خالدٌ adalah ‘athof nasaq karena menggunakan huruf ‘athof anatara dia dan ma’thufnya (محمدٌ ).

Berikut ini adalah huruf-huruf ‘athof beserta fungsinya:
الواو Untuk menggabungkan satu dengan yang lainnya sekaligus. جاء محمد وعلي. Telah datang Muhammad dan Ali.
الفاء Untuk tertib dan ta’qib. Tertib artinya berurutan dan ta’qib artinya urutan tanpa jedah. قدم الفرسان فالمشاة. Telah datang pasukan berkuda lalu pasukan jalan kaki.
ثم Untuk tertib dengan adanya jedah antara satu dengan dua. أرسل الله عيسى ثم محمد عليهما الصلاة والسلام Alloh telah mengutus Isa kemudian Muhammad عليهما الصلاة والسلام
أو Untuk pilihan dan pembolehan. تزوج هندا أو أختها.
ادرس الفقه أو النحو. Nikahilah Hindun atau saudaranya.
Pelajarilah fiqih atau nahwu.
أم Untuk penentuan setelah pertanyaan. أدرست الفقه أو النحو؟ Apakah kamu mempelajari fiqih atau nahwu?
إما Dengan syarat di dahului oleh yang semisalnya, fungsinya seperti أو dalam penentua. تزوج إما هندا إما أختها. Nikahilah bisa Hindun bisa juga saudaranya.
بل Untuk menyatakan bahwa sebelumnya itu dihukumi didiamkan. ما جاء محمد بل بكر. Muhammad tidak datang bahkan Bakr.
لا Untuk menafi’kan hukumyang sama pada sesuatu setelahnya yang sebelumnya telah ditetapkan. جاء بكر لا خالد. Telah datang Bakr bukan Kholid.
لكن Untuk menunjukkan penetapan hukum sebelumnya dan menetapkan lawannya setelahnya. لا أحب الكسالى لكن المجتهدين. Aku tidak suka orang-orang malas akan tetapi aku suka orang-orang yang besungguh-sungguh.
حتى Untuk tadarruj(tingkatan tingkatan) dan tujuan jika setelahnya jumlah. يموت الناس حتى الأنياء. Manusia akan mati sampai para nabi.

 Taukid
Artinya penekanan agar menjadi yakin.
Ini ada dua jenis:
1. Taukid Lafdziy, yaitu dengan mengulang lafadz yang ingin ditekanan. Lafadz itu bisa berupa fi’il atau isim. Contoh:
جاء محمد محمد. Telah datang Muhammad Muhammad.
Yang ditekankan dalam contoh ini adalah isim yaitu محمد , untuk menekankan bahwa yang telah datang itu benar-benar Muhammad.

جاء جاء محمد. Telah datang, telah datang Muhammad.
Yang ditekankan dalam contoh ini adalah fi’il yaitu , untuk menekankan bahwa sungguh-sungguh Muhammad telah datang.

2. Taukid Ma’nawiy, yaitu taabi’(yang mengikuti) yang menghilangkan kemungkinan lupa atau perluasan pada matbu’(yang diikuti).
Contoh:
جاء الأمير. Telah datang Amir(pemimpin).
Dalam contoh ini bisa ada kemungkinan bahwa yang datang itu Amir itu sendiri, atau utusan Amir, atau orang yang mengatakannya lupa siapa yang datang.

Kalau kita tambahkan dalam contoh di atas menjadi:
جاء الأمير نفسه. Telah datang Amir sendirinya.
Maka dengan demikian kita menghilangkan kemungkinan bahwa yang itu utusannya, akan tetapi memang yang datang diri Amir sendiri dan bukan orang lain.

نفسه adalah taukid ma’nawiy.

Lafadz-lafadz untuk menunjukkan taukid ma’nawiy diantaranya adalah:
النفس حضر الأمير نفسه. Telah hadir Amir sendirinya.
العين حضر محمد عينه. Telah hadir Muhammad sendirinya.
كل حضر الطلاب كلهم. Telah hadir para pelajar seluruhnya.
أجمع فسجد الملائكة كلهم أجمعون. Telah sujud para malaikat mereka semua.

I’rob taukid ini mengikuti muakkad(yang ditekankan). Maka lafadz-lafadz taukid pada contoh-contoh di atas adalah semuanya marfu’ karena muakkadnya marfu’.

 Badal
Kalau arti secara bahasa adalah pengganti.
Yaitu taabi’ yang dimaksudkan dengan hukum tanpa perantara.
Contoh:
حضر إبراهيم أبوك. Telah datang Ibrohim bapakmu.
Maka أبوك adalah badal dari إبراهيم , karena dua lafadz tadi untuk menunjukkan satu orang saja.

I’rob badal ini mengikuti mubdal minhunya.

Macam-macam badal:
1. بَدَلُ الشَّيْءِ مِنَ الشَّيْءِ
Yaitu badalnya itu adalah mubdal minhu itu sendiri, contoh: زارني محمد أبوك . أبوك adalah محمد itu sendiri, maka ini disebut بَدَلُ الشَّيْءِ مِنَ الشَّيْءِ .
2. بَدَلُ الْبَعْضِ مِنَ الْكُلِّ
Yaitu badal adalah bagian dari mubdal minhu, contoh: جاء الجيش نصفه . Maka نصفه adalah sebagian/setengah dari الجيش , maka ini disebut بَدَلُ الْبَعْضِ مِنَ الْكُلِّ .
3. بَدَلُ الْاِشْتِمَالِ
Yaitu badal dan mubdal minhu mempunyai kaitan yang bukan keseluruhan atau bagian/جزء. Contoh: نفعني الأستاذُ حسنُ أخلاقِه artinya: Telah memberi manfaat padaku Ustadz itu (yaitu) kebaikan akhlaqnya.
حسنُ أخلاقِه adalah بَدَلُ الْاِشْتِمَالِ karena kebaikan akhlaqnya itu bukan keseluruhan atau bagian anggota tubuh ustadz itu, tapi kebaikan kahlaqnya itu berkait dengan diri unstadz itu. Ini bisa diketahui dari dhomir yang kembali pada ustadz itu.
4. بَدَلُ الْغَلَطِ
Ada tiga macam:
1. بدل البَدَاءِ yaitu kamu bermaksud pada sesuatu kemudia tampak padamu hal yang lain lebih baik. Contoh:
هو نَجْمٌ Dia adalah bintang. Kemudian ketika itu kamu mendapatkan sifat lebih tepat untuknya, lalu kamu mengatakan: شَمْسٌ (matahari).
2. بدل النِسْيَانِ yaitu perkataanmu yang pertama dibangun di atas sangkaan, kemudia kamu mengetahui kesalahannya, lalu kamu membenarkannya. Contoh:
هو المدرسُ Telah datang guru itu. Kemudin kamu mengetahui bahwa pernyataan itu salah, karena hanya berdasarkan sangkaan saja. Tapi setelah jelas siapa yang datang maka kamu memperbaikinya dengan mengatakan: المديرُ (kepala sekolah).
3. بدل الغلطِ yaitu lisanmu telah mendahului maksudmu sehingga salah dalam mengucapkan, kemudian kamu memperbaikinya. Contoh:
جاء محمد seketika itu kamu memperbaikinya dengan mengatakan زيد.

Posted in: Arabic Lessons | Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *